Merawat Rapai Pase di Tengah Keterbatasan Pascabanjir, Kisah Grup Kram Krum Tam-Tum Boh Beureutoh
Dentuman Rapai Pase kini semakin jarang terdengar di Aceh Utara pascabanjir bandang besar yang melanda wilayah itu pada akhir November 2025. Banjir bandang yang membawa material longsor dan lumpur tebal itu tidak hanya merusak infrastruktur dan menghancurkan rumah-rumah warga, tetapi juga mempengaruhi kegiatan seni dan budaya masyarakat setempat. Salah satu grup yang terkena dampak dari bencana alam itu adalah Grup Kram Krum Tam-Tum Boh Beureutoh, sebuah grup musik tradisional yang terkenal dengan permainan Rapai Pase-nya.
Sejarah dan Perkembangan Rapai Pase
Rapai Pase adalah salah satu alat musik tradisional Aceh yang telah ada sejak zaman kerajaan Aceh. Alat musik ini terbuat dari kayu atau logam dan memiliki bentuk yang unik, dengan permukaan yang datar dan bagian tengah yang menonjol. Rapai Pase dimainkan dengan cara dipukul menggunakan stik atau tangan, menghasilkan suara yang khas dan merdu. Dalam beberapa dekade terakhir, Rapai Pase telah menjadi salah satu simbol budaya Aceh dan sering dimainkan dalam acara-acara adat dan tradisional. Grup Kram Krum Tam-Tum Boh Beureutoh adalah salah satu grup musik tradisional yang paling terkenal di Aceh Utara. Grup ini didirikan pada tahun 2000 oleh beberapa pemuda yang memiliki passion terhadap musik tradisional Aceh. Sejak itu, grup ini telah menjadi salah satu grup musik tradisional yang paling aktif dan produktif di Aceh, dengan ratusan pertunjukan yang telah mereka lakukan di seluruh Aceh dan Indonesia. Mereka juga telah merilis beberapa album musik tradisional Aceh yang sangat sukses dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat dan kritikus musik.Dampak Banjir Bandang terhadap Grup Kram Krum Tam-Tum Boh Beureutoh
Banjir bandang yang melanda Aceh Utara pada akhir November 2025 telah membawa dampak yang signifikan terhadap Grup Kram Krum Tam-Tum Boh Beureutoh. Bencana alam itu tidak hanya merusak infrastruktur dan menghancurkan rumah-rumah warga, tetapi juga mempengaruhi kegiatan seni dan budaya masyarakat setempat. Grup Kram Krum Tam-Tum Boh Beureutoh kehilangan beberapa anggota grup yang terkena dampak banjir, serta beberapa alat musik tradisional yang rusak atau hilang. Selain itu, banjir bandang juga mempengaruhi kegiatan pertunjukan grup ini. Banyak acara-acara yang telah dijadwalkan sebelumnya harus dibatalkan atau ditunda karena kondisi yang tidak memungkinkan. Grup ini juga kesulitan untuk mencari tempat latihan yang baru karena banyak fasilitas yang rusak atau hancur. Namun, meskipun menghadapi banyak tantangan, Grup Kram Krum Tam-Tum Boh Beureutoh tetap berkomitmen untuk melestarikan dan mengembangkan musik tradisional Aceh.Upaya Pelestarian dan Pengembangan Rapai Pase
Meskipun menghadapi banyak tantangan, Grup Kram Krum Tam-Tum Boh Beureutoh tetap berkomitmen untuk melestarikan dan mengembangkan musik tradisional Aceh. Mereka telah melakukan beberapa upaya untuk pelestarian dan pengembangan Rapai Pase, seperti mengadakan pelatihan dan workshop untuk masyarakat setempat, serta mencari dan mengembangkan alat musik tradisional yang baru. Grup ini juga telah bekerja sama dengan beberapa organisasi dan lembaga untuk mengembangkan musik tradisional Aceh. Mereka telah mengadakan beberapa pertunjukan dan acara yang bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan musik tradisional Aceh, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan warisan budaya. Dengan demikian, Grup Kram Krum Tam-Tum Boh Beureutoh telah menjadi salah satu grup musik tradisional yang paling berpengaruh dan berkomitmen terhadap pelestarian dan pengembangan musik tradisional Aceh.Kesimpulan
Dentuman Rapai Pase kini semakin jarang terdengar di Aceh Utara pascabanjir bandang besar yang melanda wilayah itu pada akhir November 2025. Namun, meskipun menghadapi banyak tantangan, Grup Kram Krum Tam-Tum Boh Beureutoh tetap berkomitmen untuk melestarikan dan mengembangkan musik tradisional Aceh. Dengan upaya pelestarian dan pengembangan Rapai Pase, grup ini telah menjadi salah satu grup musik tradisional yang paling berpengaruh dan berkomitmen terhadap pelestarian dan pengembangan musik tradisional Aceh. Oleh karena itu, kita harus mendukung dan menghargai upaya Grup Kram Krum Tam-Tum Boh Beureutoh dalam melestarikan dan mengembangkan musik tradisional Aceh, serta memastikan bahwa warisan budaya kita tetap hidup dan berkembang.Ilustrasi - Redaksi Jumper Media Aceh
0 Komentar